Jumat, 09 Mei 2008

kearifan seorang penjual nasi gandul

Hari ini makan malam di salah satu tempat langgananku. warung ini, seperti tertulis didepannya, menjual nasi gandul. i'm pretty sure cukup banyak yang belum pernah nyoba atau bahkan tau seperti apa masakan khas pati ini.

Namanya memang cukup aneh, nasi gandul. suatu hari aku tanyakan ke bapak yang ngejual nasi gandul ini, kenapa namanya nasi gandul. ternyata asal muasal cerita namanya menjadi nasi gandul merupakan cerita yang agak gak enak untuk dapat didengarkan karena ketika itu aku sedang makan dan (parahnya) sedang bersama makhluk ciptaan tuhan yang sangat indah (baca:cewek) . tapi salahku juga, nanya pas makan, hehehe.

ceritanya, according to bapak yang jual (aku lupa namanya), adalah pada dahulu kala yang pertama kali ngejual nasi gandul itu adalah seorang bapak-bapak tua dengan menggunakan alat gendong (tidak seperti yang saat ini sedang saya datangi, berupa warung semi-permanen). bapak itu melanjutkan ceritanya, yang merupakan inti mengapa ini menjadi nasi gandul, ternyata...
(gak tega untuk cerita)
bukan karena pas masak nasinya digantung , ato dagingnya digantung, atau apapun digantung.
tetapi..
(serius mau tau???)
karena bapak2 tua yang jual itu, pas ngejual pake sarung doang, jadi "gondal-gandul". yu now wat ai min kan? itulah mengapa aku menyesal juga nanya pas makan. sedikit berkurang selera makan, tapi kok rasanya enak juga, dan juga yang jual pake celana, hahahaha.

back to our main topic, hari ini pas makan kejadian seperti yang aku tulisakan di postingan terakhir terjadi. selembar uang 5000 perak udah gak relevan lagi, alias harga naik bos!!! ya ampun, BBM belum naik tapi harga makanan udah naik. mungkin ini bukti bahwa pasar indonesia adalah pasar efisien secara kuat (strong efficiency) menurut fama. informasi privat (soalnya belum dirilis secara resmi kenaikannya kapan dan berapa) udah mempengaruhi harga makanan. jangan-jangan bapak dan ibu yang jual ini pernah dapet kelas TPAI pak Jogi juga apa y? very probable.

gak ding, bukan gara2 itu, tapi karena harga komoditas juga naik dalam beberapa waktu terakhir. ini yang aku gak habis pikir, kalo minyak bolehlah naik. konsumsi minyak kita 2 juta barrel perhari, tapi produksi indonesia sekitar 900ribu barrel perhari. dan harga minyak naik, maka gak ada subsidi. bolehlah.

tapi ini komoditas man!!! setiap orang di bumi pertiwi ini tau kalo tanah kita ini bisa menghasilkan apapun. cabe naik, padahal kita bisa produksi cabe dengan baik. beras naik. minyak goreng, yang merupakan produk turunan dari CPO (kelapa sawit) juga naik. padahal kita produsen CPo terbesar kedua di dunia. well, sorry ya pakde Bambang (baca:SBY) kali ini saya protes kepada anda.

saya lihat disini bukan pada ketidakmampuan kita menghadapi pasar. memang di pasar luar negeri harga komoditas naik, tapi ini di Indonesia bos. pemerintah harus atur itu dong. pemerintah harus intervensi pasar.

ambil contoh pengusaha CPO deh, memang sangat menggiurkan harganya di LN sana. tapi pemerintah saya pikir harus tetap tegas dan strict bahwa pemenuhan kebutuhan dalam negeri tetap harus diprioritaskan. mengenai kerugian yang dialami pengusaha untuk memenuhi demand dalam negeri, kan bisa memberikan insentif berupa tax holiday atau apapun solusi lainnya .

oh ya, pas mau mesen ibunya yang jual (kali ini bukan bapaknya) langsung bilang "mas, maaf ya harganya saya naikkan. udah 3 hari ini mas. soalnya harga apa2 naik mas". saya ya cuma mesam mesem, lha wong laper kok.

ya sudah dari situ pembicaraan dengan si ibu berlanjut. dia mengeluhkan harga bahan-bahan yang naik. cabe, ayam, daging. susahnya mendapatkan minyak tanah dan harganya yang naik (ingat: aku menuliskan naik bukan tinggi. karena harga sekarang masih murah, pemerintah mensubsidi banyak untuk minyak tanah, makanya ada program konversi ke Gas).

aku juga tanyakan kenapa gak pake gas jika susah mendapatkan minyak tanah. jawabnya "kayaknya boros mas". wah, secara aku belum pernah mencari info mengenai efisiensi energi dan ekonomi gas dibandingkan minyak tanah. aku ya ngangguk2 aja, biar ibu nya seneng kalo aku mendukung dia. hehe..

tapi yang menurut aku penting dari makan malam hari ini adalah moral of the story. seperti kata Nina (akt '06) "yang mereka pikirkan itu adalah harga yang murah mas. bukan masalah APBN, mereka gak ngerti itu mas". bener juga, aku jadi memikirkan kembali postinganku terakhir. dukung atau tidak ya kenaikan harga minyak?

ibu penjual nasi gandul berujar "saya sebenernya kasihan ama anak2 sekolah yang suka beli disini, tapi mau gimana lagi mas, gak tahan kalo harga2 pada naik". Ya allah, mereka aja peduli ama nasib ku dan anak2 sekolah(baca:kuliah juga). masak aku gak perduli dengan nasib mereka dengan setuju kenaikan harga minyak. masalahnya beban mereka akan sangat berat. aku cuma beruntung dilahirkan dalam keluarga yang bisa membuatku sedikit aman dengan tekanan ekonomi sekarang. tapi bagaimana yang tidak?

hmm.. oleh karena itu, saya dengan ini menyatakan posisi : pikir-pikir terhadap tawaran pemerintah untuk menaikkan harga BBM. kecuali jika ada tindakan pemerintah terhadap harga-harga kebutuhan pokok rakyat.

betewe, aku jadi teringat hari ini mendapatkan selebaran untuk mengikuti aksi mahasiswa di jakarta besok rabu. baru kali ini aku merasa tergerak. serius, aku merasa tergerak. entah kenapa.. padahal dulu aku di BEM trus keluar gara2 gak sejalan ama pemikiranku. tapi sekarang they seem to be true.

ada yang gak bener di republik ini. TUGU RAKYAT juga masih terdengar realistis dan logis bagiku. kita lihat saja apa yang terjadi selama seminggu ini. paling juga aku gak bakalan ikut ke jakarta.

diapain aku ma Bapak (my dad) kalo tau aku ikut2 aksi mahasiswa. itu salah satu wanti2 beliau sebelum aku berangkat ke jogja. aku inget banget itu, suatu sore di meja makan kejadiannya.

tenang pak, anakmu ini sangat taat dan berbakti padamu.

cuma tidak tenang saja melihat kondisi saat ini.

*god 1:16 AM, jumat pagi, i'm so addicted to write di blog ini, walaupun gak mutu.*

1 komentar:

Anonim mengatakan...

baru twa gwe kalo Rizal bisa juga berpikir ttg rakyat.....hehehehehehh
tumben lo Zal....dapet angin apa lo???
gwe dulu juga sering banget mikir rakyat Zal....cie...cuma lama-lama jenuh juga...gag ada solusinya tuh abis aku pikir-pikir....
negara ini kayak Titanic aja Zal...seberapa cepat kamu bisa meninggalkan negara ini tu yang paling baik....menurutkuw lo...
bukannya ga nasionalis....apalagi dibilang agen khusus negara asing...
tapi ya saking nasionalisnya aku dah mengangkat topi pada ibu pertiwi...sembari uraikan seribu maaf tuk menjadi insan yang tak berguna banginya...
mungkin kamu harus pikir-pikir lagi apakah kudu terus memikirkan rakyat apa ngga....he2

*noe : pertama;setia;satu-satunya*